Denpasar – Tensi politik semakin memanas jelang coblosan Pilkada Tabanan 9 Desember 2020 mendatang.

Keputusan Golkar untuk memgusung pasangan nomor urut 2 yakni, Anak Agung Ngurah Panji Astika-I Dewa Nyoman Budiasa (Panji-Budi) ternyata mendapat perlawanan dari beberapa kadernya.

Bahkan, beberapa kader terlihat membelot dari keputusan partai tersebut. Salah satu kader yang melawan ialah politisi senior partai berlambang pohon beringin tersebut yakni, I Gusti Putu Wijaya yang memilih mendukung pasangan nomor urut 1 yang merupakan usungan PDIP, Komang Gede Sanjaya-Edi Wirawan (Jaya-Wira).

Bahkan, Mantan Anggota DPR RI Fraksi Golkar ini menggelar deklarasi dukungan kepada duet Jaya-Wira di kediamannya Jero Jambe, Banjar Kutuh Kelod, Desa Samsam, Kecamatan Kerambitan, Sabtu 3 Oktober 2020 lalu.

Saat dikonfirmasi mengenai sikapnya tersebut, Selasa 6 Oktober 2020, ia mengaku bahwa Tabanan membutuhkan sosok pemimpin yang memiliki pengalaman dalam menjalankan pemerintahan.

Untuk itu, dirinya melihat sosok Jaya-Wira merupakan sosok yang tepat untuk memimpin.

“Dimasa situasi ini, kita berharap pada calon Bupati yang siap pakai lah, tidak lagi adaptasi, sudah tahu permasalahan,” katanya.

Selain itu, pertimbangan lainnya yakni saat ini Tabanan membutuhkan figur pemimpin yang sudah paham dan berpengalaman dalam pemerintahan.

“Dengan situasi begini, ini kan pemilihan Bupati. Kalau itu bukan kader saya, ya saya pilih yang terbaik lah. Kira-kira yang saya sudah tahu kinerjanya,” tandasnya.

Komang Gede Sanjaya (kanan) dan Made Edi Wirawan memperlihatkan surat rekomendasi dari DPP PDIP

Komang Gede Sanjaya (kanan) dan Made Edi Wirawan memperlihatkan surat rekomendasi dari DPP PDIP Rudolf Arnaud Soemolang

Selain itu, Partai Golkar dinilai tidak memprioritaskan kader Partai, lebih memilih kader lain.

Menurutnya, sejak awal Golkar memang memotong kesempatan para kader untuk bertarung di Pilkada Tabanan. Ini terlihat dengan tidak direkomendasikannya para kader yang ikut berkompetisi dalam penjaringan internal Golkar.

“Sesungguhnya dari proses awal, artinya awal kita harap kalau kader yang menjadi kan lebih bagus. Jangan non kader, sedangkan kader kita yang mendaftar itukan ada, seperti Jero Tosan, I Gusti Kade Heryadi Angligan, itu juga cukup baik,” katanya.

Justru, Partai Golkar lebih memilih mencalonkan yang bukan murni kader yakni Panji-Budi. Inilah yang membuat dirinya sedikit merasa kecewa dengan keputusan Golkar.

“Saya melihat keduanya bukan kader Golkar. Jangan sampai nantinya kita yang berkeringat, yang mendapat hasilnya partai lain,” akunya

Sumber : denpasarupdate

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *